Bersikap Positif

10552531_724396250931615_6186235460244355605_n
Terkadang dalam kehidupan bersosialisai kita akan menemukan sesuatu yang berlainan baik dari segi pandangan atau pendapat, bahkan seringkali ada tudingan negatif yang menimpah diri, namun sikapilah dengan baik tanpa harus sentimen dan emosional, keduanya harus mampu ditangkis dampaknya akan berakibat pada diri sendiri jika tidak mampu kita mengendalikannya.

Pellegrini: Negredo Tidak Dijual

negredoi Manchester – Manuel Pellegrini menyanggah kabar bahwa Alvaro Negredo akan dijual. Sebab penyerang Spanyol itu masih masuk dalam skuat Manchester City musim ini.

Negredo sebenarnya tampil oke di musim perdananya bersama City dengan mencetak 23 gol dari 48 penampilan di seluruh kompetisi.

Namun sayangnya 22 dari 23 gol itu dicetak sebelum pergantian tahun dan setelahnya Negredo hanya bikin satu gol sejak awal 2014. Ditambah cedera bahu yang mendera membuat performanya menurun.

Alhasil Negredo pun harus kehilangan tempat di skuat Spanyol di Piala Dunia dan kini masa depannya tengah dispekulasikan. Beberapa klub disebut tengah meminati striker 28 tahun itu, di antaranya AC Milan, Juventus, dan sejumlah klub La Liga.

Terkait rumor tersebut, Pellegrini memastikan bahwa Negredo tak akan dijual ke klub mana pun sebab eks pemain Sevilla itu masih bagian penting dari The Citizens.

“Mungkin sebulan lalu beberapa klub Spanyol meminatinya namun itu sebulan lalu. Untuk saat ini Alvaro cedera tapi dia jadi bagian dari skuat kami,” ujar Pellegrini di Sky Sports.

“Musim lalu dia tampil sangat baik dan kemudian dia mendapat cedera bahu. Sesudah itu, dia bermain buruk tapi dia selalu jadi pemain penting untuk kami. Kami tidak ingin menjualnya. Kami ingin dia tetap ada di sini,” sambungnya.

“Untuk saat ini tidak ada berita soal Negredo atau pemain lain. Kami belum menerima tawaran dari siapapun.”
(mrp/mrp)

http://sport.detik.com/sepakbola/read/2014/08/30/070635/2676651/72/pellegrini-negredo-tidak-dijual?b99220270

Belajar dari Kasus Florence di Yogya, Jauhi Media Sosial Saat Marah

083948_path300Jakarta – Florence Sihombing hanyalah manusia biasa. Kadang marah ketika merasa dirinya tak diperlakukan tak adil. Nah, menjadi persoalan saat marah melanda, dia mengungkapkannya lewat akun path. Kata-kata marah disampaikannya ke publik di Yogya.

Walau dia merasa semua yang menjadi terkoneksi dengan dia di path adalah rekan dan sahabat, tapi tidak serta nerta tidak bisa menyebar. Karenanya ketika kemarahannya menjadi viral, menyebar kemana-mana dan menjadi isu nasional, dia mendapat bully. Belum lagi akun twitter dan facebooknya diserang.

“Di media sosial jika kita menyakiti seseorang atau sekelompok orang, etnis tertentu, efeknya jauh lebih dahsyat. Ada efek viral,” jelas pakar media sosial, Nukman Luthfie saat berbincang, Jumat (29/8/2014).

Belajar dari kasus Florence itu perlu bijak dalam bermain media sosial. Walau bermula dari kemarahannya terkait antrean BBM, tetap saja ada efek di media sosial yang bisa menyebar kemana-mana. Jauh berbeda dengan kemarahan di offline.

“Ketika posting sesuatu jangan diposting saat marah, sebaiknya saat marah jauh-jauh dari media sosial. Jangan diungkapkan di media sosial karena akan ada kemungkinan pihak tertentu merasa kena. Ada teman kita yang nggak suka, kemudian akan disebarkan ke media lain,” urai Nukman.

Seperti kasus Florence ini berawal dari path tapi kemudian menyebar ke twitter dan facebook. Tak hanya kasus Florence, dahulu seseorang yang marah terkait kursi untuk ibu hamil di kereta juga demikian.

“Saya yakin Florence nggak maksud seperti itu. Dia hanya ngedumel, ya tapi ngedumel di offline beda dengan online, ada efek viralnya,” terang dia.

“Di media sosial, di saat kamu marah kamu geram, kegeraman jangan ditumpahkan di media sosial karena hukuman sosialnya jauh lebih berat dari offline. Seperti Florence ini kan statusnya sampai dikirm ke dosennya di UGM, dikirim kemana-mana, malunya nasional. Juga efeknya, bahkan ada yang mau usir dari Yogya dan sekarang memperkarakan ke polisi,” tutupnya.

Sumber: http://news.detik.com/read/2014/08/29/083656/2675738/10/belajar-dari-kasus-florence-di-yogya-jauhi-media-sosial-saat-marah?9911012